Hewan Jerapah
Jerapah
1. Memiliki leher yang panjang sehingga memungkinkan untuk memakan tunas dan daun muda.
2. Dapat minum dengan menundukkan kepalanya.
3.
Memiliki katup kecil pada bagian dalam pembuluh darah di kepalanya
sehingga saat ketinggian kepala jerapah berubah, katup tersebut dapat
mencegah tekanan darah yang tinggi naik ke kepala.
Jerapah
(Giraffa camelopardalis) atau zarafah adalah mamalia berkuku genap
endemik Afrika dan merupakan spesies hewan tertinggi yang hidup di
darat. Jerapah jantan dapat mencapai tinggi 4,8 sampai 5,5 meter dan
memiliki berat yang dapat mencapai 1.360 kilogram. Jerapah betina
biasanya sedikit lebih pendek dan lebih ringan.
Jerapah
berkerabat dengan rusa dan sapi tetapi dari suku yang berbeda, yaitu
Giraffidae, yang mencakup jerapah sendiri dan kerabat terdekatnya,
okapi. Habitat aslinya melingkupi area dari Chad sampai dengan Afrika
Selatan
Nama spesiesnya camelopardalis diambil
dari nama dalam latin, karena dianggap sebagai bastar unta (camel) dan
macan tutul (leopard). Nama camelopardalis dipakai oleh Plinius senior
dalam ensiklopedia yang ditulisnya. Nama ini juga dipakai sebagai nama
salah satu rasi bintang. Nama "jerapah" sendiri dipinjam dari nama hewan
ini dalam bahasa Arab (الزرافة, zirafah).
Subspesies jerapah
Habitat jerapah
Ada sembilan subspesies yang diterima umum yang dibedakan berdasarkan warna dan variasi pola:
Jerapah Kanibal (G.c. reticulata) atau Reticulated Giraffe
Bercak
berwarna coklat muda kemerah-merahan dikelilingi garis berwarna putih
terang, membentuk pola poligon seperti jala yang besar-besar. Bercak
bisa berlanjut sampai ke kaki. Habitat: timur laut Kenya, Ethiopia,
Somalia.
Jerapah Angola (G.c. angolensis) atau Smoky Giraffe
Bercak berukuran besar dan kecil secara tidak teratur. Bercak berlanjut hingga di bawah lutut. Habitat: Angola, Zambia.
Jerapah Kordofan (G.c. antiquorum)
Bercak
berukuran kecil, lebih tidak teratur dan juga terdapat pada kaki bagian
sebelah dalam. Habitat: Sudan bagian barat dan barat daya.
Jerapah Masai atau Jerapah Kilimanjaro (G.c. tippelskirchi)
Bercak
berbentuk seperti daun anggur, berwarna coklat tua dengan pinggiran
yang tidak rata, dikelilingi garis berwarna kekuningan. Habitat: Kenya
bagian tengah dan selatan, Tanzania.
Jerapah Nubia (G.c. camelopardalis)
Bercak
berbentuk hampir persegi empat, berwarna coklat terang di atas dasar
berwarna krem. Kaki bagian dalam dan bagian bawah lutut bebas dari
bercak. Habitat: bagian timur Sudan, timur laut Kongo.
Jerapah Rothschild, disebut juga Jerapah Baringo atau Jerapah
Uganda (G.c. rothschildi)
Bercak
berbentuk persegi empat dengan gradiasi warna latar berwarna krem di
bagian pinggir. Bercak bisa sampai ke bagian bawah lutut. Habitat:
Uganda, Kenya bagian tengah sampai timur.
Jerapah Afrika Selatan (G.c. giraffa)
Bercak
berbentuk bundar atau tutul-tutul, beberapa di antaranya membentuk pola
seperti bintang. Latar belakang bercak warna coklat muda yang terang.
Bercak atau tutul bisa sampai ke bagian telapak kaki. Habitat: Afrika
Selatan, Namibia, Botswana, Zimbabwe, dan Mozambik.
Jerapah Thornicroft atau Jerapah Rhodesia (G.c. thornicrofti)
Bercak berbentuk bintang atau daun, berlanjut sampai ke kaki bagian bawah. Habitat: Zambia bagian timur
Jerapah Afrika barat atau Jerapah Nigeria (G.c. peralta)
Bercak berwarna merah kekuningan yang pucat. Habitat: [[Chad]
Jerapah
bahwasanya memang menonjol daripada hewan yang lain. Di kebun binatang
atau di habitat alaminya yang berada di sekitar Afrika Tengah, tingginya
menjulang lebih dari binatang lain, dan merupakan hewan darat terbesar
yang kedua yang masih hidup hingga sekarang (gajah Afrika yang paling
besar). Panjang leher jerapah telah mempesonakan para pengamat selama
beberapa tahun. 'Bagaimana lehernya bisa panjang?' tanya mereka.
Dalam
pengamatan pundaknya yang setinggi 3 meter (10 kaki) jerapah
mengulurkan lehernya yang sepanjang 2,5 meter (8 kaki) sampai batasnya,
dan ditambah dengan lidahnya yang panjang dan berukuran hampir 1 kaki
untuk menjangkaukan dirinya dengan dahan pohon akasia yang terlihat
tidak bisa diraih, dan beberapa orang mungkin percaya bahwa proses
penguluran tersebut menyebabkan proses pertumbuhan leher jerapah. Tetapi
sebenarnya, apakah seekor jerapah mampu menambah sesuatu demi
ketinggiannya?
Kalau satu fitur memang berganti, bukankah ini akan mempengaruhi semuanya? Mari kita pertimbangkan tentang jerapah.
Jerapah
merupakan hewan mamalia, oleh karena itu banyak dari struktur
anatominya sama dengan apa yang hewan mamalia miliki juga. Seperti
dengan hewan mamalia kebanyakan, jerapah memiliki tujuh tulang leher.
Bagaimana kalau ia tidak punya tujuh tulang di antara pundaknya dan
bagian dasar dari tulang kepalanya? Leher manusia yang pendek menyokong
kepala yang sangat seimbang dengan postur tegak dan usaha yang amat
kecil. Kepala jerapah yang besar mesti ditahan tinggi setiap saat. Pada
saat ia tegak, hampir setengah dari otot lehernya yang beratnya sekitar
225 kilogram (500 pound) sedang dalam ketegangan. Jumlah otot yang
diperlukan secara langsung berhubungan dengan banyaknya tulang sendi
yang harus disokong. Mengurangi tulang sendi hingga hanya dua (di bagian
tengkorak dan di bagian pundak) akan mengurangi beratnya dengan banyak
dan keperluan energi untuk kelangsungan hidup juga ikut berkurang.
Apabila hal kekurangan makanan menjadikan lehernya untuk berubah,
tidakkah jumlah tulang leher dan tulang sendi berubah juga dalam proses
evolusi? Tentu saja masalah dalam disain leher ini adalah hilangnya
fleksibilitas, dan juga meningkatkan kemampuan keretakan secara banyak,
apabila jerapah tersebut menerima suatu pukulan di kepala atau leher.
Dalam
hal yang sama, memiliki leher dengan tulang sendi yang saling terhubung
dengan rumit akan menyebabkan keperluan tertentu - konsumsi energi yang
lebih tinggi dan perlunya untuk menyokong massa otot yang lebih banyak.
Ini akan menyebabkan titik berat jerapah untuk berpindah ke bagian
depan dari kaki depannya ketika kepalanya dihadap lurus ke depan, dan
juga menyebabkan kaki belakang melayang dari tanah - dalam anggapan kaki
depannya lumayan kuat. Tujuh tulang leher adalah disain yang unggul.
Dengan
kepalanya terangkat tinggi di udara, jantung jerapah yang besar harus
bisa memompa darah penuh dengan oksigen dengan cukup dalam jarak 3 meter
(10 kaki) ke otak. Ini akan menimbulkan masalah (melibatkan tekanan
darah yang terlalu tinggi) ketika jerapah tersebut menurunkan kepalanya
pada saat ia minum air, kalau bukan karena sekelompok dinding arteri
yang unik, katup yang berkeliling dan mencegah pengumpulan darah,
jaringan pembuluh darah yang kecil (rete mirabile, atau 'jaringan yang
mengagumkan'), dan sinyal pendeteksi tekanan yang menjaga aliran darah
yang cukup ke otak dalam tekanan yang benar. Termasuk bagi yang
menganggap ini hanyalah 'adaptasi terhadap tekanan gravitasional yang
tinggi dalam sistem kardiovaskular', jerapah adalah hewan yang unik.
PENYESUAIAN TERHADAP GRAVITASI
Jantung
jerapah mungkin adalah yang paling kuat di antara hewan-hewan yang
lain, karena sekitar dua kali lipat dari tekanan darah normal diperlukan
untuk memompa darah melalui lehernya yang panjang hingga ke otak.
Dengan tekanan darah yang tinggi ini, hanya fitur desain spesial
mencegahnya dari 'meletuskan otaknya' ketika ia membungkuk ke bawah
untuk minum air.
Fakta yang sama menakjubkan
adalah darahnya tidak berkumpul di bagian kaki, dan jerapah tidak
berdarah berlimpah-limpah apabila kakinya terluka. Rahasianya adalah
kulitnya yang sangat keras dan jaringan sel di bagian dalam yang
mencegah akumulasi darah. Kombinasi kulit ini telah dipelajari dengan
dalam oleh ilmuwan NASA dalam perkembangan mereka tentang pakaian untuk
astronot. Yang juga berguna untuk mencegah pendarahan besar terdapat
pada seluruh pembuluh darah di kaki jerapah yang begitu internal.
Pembuluh
rambut yang menjangkau sampai permukaan amatlah kecil, dan ukuran sel
darah merahnya sekitar satu per tiga dari ukuran yang dimiliki manusia
yang menjadikan aliran darah memungkinkan. Ini tentu menjadi jelas bahwa
dari seluruh segi dalam jerapah ini semuanya saling berinteraksi dan
saling bergantung satu sama lain dengan lehernya yang panjang.
Tetapi
ada lagi. Ukuran sel darah merah yang lebih kecil memungkinkan luas
permukaan yang lebih besar dan penyerapan oksigen yang lebih tinggi dan
cepat dalam darah. Ini membantu menjaga persediaan oksigen yang cukup
hingga ekstremitas, dan juga di bagian kepala.
Paru-parunya
bekerja sama dengan jantung untuk membekali jerapah dengan oksigen yang
cukup, tetapi dengan cara yang unik untuk jerapah. Ukuran paru-paru
jerapah delapan kali lebih besar dari yang dimiliki manusia, dan
kecepatan pernafasannya sekitar satu per tiga dari manusia. Bernafas
dengan lebih pelan penting untuk menggantikan volume udara yang
diperlukan tanpa menyebabkan pengasaran kulit terhadap trakea jerapah
yang berlipat-lipat dan sepanjang 3,6 meter (12 kaki). Ketika binatang
tersebut menghirup nafas segar, nafas sebelumnya yang telah kehabisan
oksigen tidak bisa dikeluarkan sepenuhnya. Untuk para jerapah, masalah
ini dirumitkan lagi oleh trakea yang panjang dan yang akan menyisakan
udara yang mati dengan banyak, lebih banyak dari satu nafas manusia.
Penyelesaiannya adalah udara yang dihirup harus cukup untuk menjadikan
'udara buruk' ini dalam persentase yang kecil dari keseluruhan total.
Ini adalah masalah fisika yang telah dipecahkan oleh jerapah.
KELAHIRAN JERAPAH
Untuk
hal yang mengherankan, kelahiran jerapah menyelesaikan perkara dalam
Intelligent Design (Desain Intelijen). Seekor anak binatang yang baru
lahir jatuh dan hidup dari ketinggian 1,5 meter (5 kaki), karena ibunya
tidak mampu jongkok ke tanah dengan nyaman, dan berdiam di bawah pada
saat melahirkan tentu menjadi undangan kepada singa atau pemangsa lain
untuk menyerang sang ibu. Untuk seluruh hewan mamalia, ukuran kepalanya
tidak seimbang dengan ukuran tubuhnya yang lain, dan ini menjadi
tantangan untuk menurunkan sang anak melalui rahim.
Bayi
jerapah mendapat tambahan dalam tantangan, yaitu memiliki leher panjang
dan rapuh terhubung dengan seluruh tubuh barunya yang seberat 70
kilogram (150 pound). Apabila kepalanya keluar dulu, lehernya pasti
retak ketika bagian tubuhnya yang lain jatuh di atas leher. Kalau
kepalanya keluar paling terakhir, lehernya pasti juga retak karena berat
badannya menarik kepalanya keluar dari ibunya. Jalan buntu seperti ini
dipecahkan dengan panggul belakang yang berukuran amat lebih kecil
daripada bahu depan, dan panjang lehernya berukuran cukup untuk
memungkinkan kepala melalui rahim dan mendarat di panggul belakang. Kaki
belakang keluar dulu untuk menjaga jatuhnya bagian tubuh yang lain.
Kepalanya disokong dan dibantali oleh panggul belakang, dan lehernya
lumayan lentur, memungkinkan lengkokan tajam di sekitar bahu depan.
Ini
adalah jalan keluar yang sempurna, yang merupakan hal yang tidak
mungkin di dalam kombinasi yang lain atau panjang leher yang berbeda.
Beberapa menit kemudian, anak jerapah tersebut dengan anggun berdiri di
antara kaki ibunya. Dari kelahiran hingga kedewasaan dalam hanya empat
tahun, lehernya tumbuh dari satu per enam hingga satu per tiga dari
total tinggi jerapah tersebut. Pertumbuhan ini diperlukan hewan tersebut
untuk mengatasi masalah ketinggian kakinya dan untuk tunduk ke bawah
untuk minum air. Makanan anak jerapah untuk tahun pertama biasanya
adalah air susu ibunya yang kaya, dan yang bisa dijangkau dengan mudah.
Dalam hal ekologi,
jerapah amat cocok dengan lingkungan hidupnya. Ada keperluan akan pohon
penghias untuk mencegah pohon rimbun yang tumbuh dengan cepat dari
menggelapkan tanah dan membunuh rumput-rumput penting yang menyediakan
makanan untuk hewan padang rumput. Juga ada keperluan akan penjaga yang
bisa melihat dari atas rumput tinggi dan memandang gerakan-gerakan
kucing pemangsa. Jerapah bukan hanya tinggi dan mampu untuk melakukan
hal ini, tetapi juga memiliki pandangan dan watak yang ingin tahu.
Setelah memperingatkan hewan lain dengan beberapa desis ekor, jerapah
dengan gagah berlangkah lari dari bahaya. Tinggi tubuh yang besar,
lapisan kulit yang kuat, tendangan belakang yang mematikan, dan langkah
yang panjang dan cepat membuat jerapah dewasa seekor mangsa yang tidak
diinginkan oleh hewan karnivora yang lain.
Untuk
menyatakan bahwa seluruh hal ini mungkin adalah hasil evolusi ke suatu
kelas binatang, dengan kurangnya hal lain yang berhubungan dan bisa
terpikirkan, dan menjadi amat terbina hanya karena yang disangka adalah
kurangnya makanan di bagian permukaan, adalah hal yang mustahil.
Tidakkah seharusnya yang lain yang juga makan di bagian permukaan, yang
juga mempan dengan kucing besar, dan yang juga mengalami radiasi kosmik
yang sama, telah mencapai ketinggian seperti jerapah?
Yang
menarik, ada hewan lain yang memang makan dari pohon. Kijang gerenuk
(Litocranius walleri) dari Afrika memiliki leher terpanjang dari famili
kijang, memiliki lidah panjang, dan makan daun-daun dari pohon ketika
berdiri dengan kaki belakangnya. Kambing markhor (Capra falconeri) dari
Afganistan memanjat pohon setinggi 25 kaki untuk memakan daun-daun
pohon. Mamalia lain juga menginginkan daun-daun pohon tetapi tidak ada
satupun dari mereka yang akan menjadi jerapah, dan jerapah tentu saja
tidak berasal dari hewan 'kurang dari jerapah'.
Kita
tidak bisa tahu bahwa kondisi dulu sama dengan sekarang, namun teori
"keperluan akan kelangsungan hidup dengan tumbuh lebih tinggi demi
makanan" merupakan hal yang sedikit lebih dari spekulasi post hoc (suatu
kekeliruan dalam argumen), sama seperti berbagai penjelasan Darwin
tentang jenis hewan. Rekor fosil memastikan ini, dan desain unik dan
menakjubkan yang terlihat dari hewan ini membuktikan ini. Pujian,
keagungan, dan kebesaran tertuju kepada Sang Pencipta jerapah ini.

0 comments:
Post a Comment